Wijaya Karya Mulai Rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek Jombang Hingga 2027

Selasa, 27 Januari 2026 | 08:51:40 WIB
Wijaya Karya Mulai Rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek Jombang Hingga 2027

JAKARTA - Tahapan awal rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek di Kabupaten Jombang akhirnya resmi berjalan setelah melewati proses perencanaan panjang. Proyek ini menjadi perhatian banyak pihak karena menyangkut keberlanjutan sistem irigasi dan ketahanan pangan di wilayah utara Sungai Brantas.

Pekerjaan rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek yang berlokasi di Kecamatan Plandaan, Jombang, memiliki nilai anggaran sebesar Rp264 miliar yang bersumber dari APBN. Proyek tersebut dirancang sebagai proyek strategis nasional dengan target pelaksanaan hingga tahun 2027.

Struktur bendung yang selama ini mengandalkan sistem karet akan mengalami perubahan signifikan. Ke depan, peninggi muka air tidak lagi menggunakan karet penuh, melainkan pelat baja dengan sistem penggerak tertentu.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA sebagai pemenang tender telah mulai melakukan mobilisasi awal. Sejumlah alat berat secara bertahap mulai didatangkan ke lokasi proyek.

Langkah awal ini menandai dimulainya pekerjaan fisik di lapangan. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa proyek strategis ini memasuki fase implementasi.

Aktivitas Awal dan Kondisi Lapangan

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas pembersihan lahan telah dilakukan sejak beberapa minggu terakhir. Pekerja terlihat membersihkan tanggul di sisi Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang.

Pohon jati dan bambu di sekitar area bendung mulai ditebang. Kayu hasil pemotongan diangkut keluar lokasi untuk membuka akses pekerjaan selanjutnya.

Selain itu, banner peringatan proyek juga telah dipasang di beberapa titik strategis. Pemasangan ini bertujuan memberi informasi kepada masyarakat sekitar terkait kegiatan konstruksi.

Seorang warga setempat bernama Hadi menyebut aktivitas pembersihan sudah berlangsung cukup lama. “Sudah beberapa minggu ini dibersihkan, katanya alat berat didatangkan hari ini,” ujarnya.

Keberadaan alat berat menjadi indikator penting dimulainya pekerjaan konstruksi skala besar. Masyarakat sekitar pun mulai bersiap menghadapi perubahan aktivitas di kawasan bendung.

Tahapan awal ini difokuskan pada persiapan lahan. Seluruh kegiatan dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan keselamatan kerja.

Penjelasan Pemerintah Daerah dan Tahapan Proyek

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air Sultoni menjelaskan bahwa proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek memang sudah resmi dimulai. Seluruh tahapan administratif telah diselesaikan sebelum pekerjaan lapangan dilakukan.

Menurut Sultoni, Surat Penunjukan Mulai Kerja atau SPMK telah diterbitkan pada akhir Desember 2025. Dokumen tersebut menjadi dasar pelaksana proyek untuk memulai pekerjaan.

Setelah SPMK diterbitkan, sosialisasi kepada masyarakat dilakukan pada minggu kedua Januari 2026. Sosialisasi tersebut berlangsung di Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan.

Tahap awal pelaksanaan fisik sempat menyesuaikan kondisi debit air Sungai Brantas. Debit air yang masih tinggi menjadi pertimbangan utama sebelum pekerjaan intensif dilakukan.

Selain faktor alam, koordinasi internal juga menjadi bagian penting dari persiapan proyek. Hal tersebut membuat pelaksana proyek baru bisa turun langsung ke Jombang pada awal 2026.

“Debit air Sungai Brantas masih tinggi, sehingga pelaksana baru sempat ke Jombang,” kata Sultoni. Pada tahap awal ini, pekerjaan difokuskan pada pembersihan lahan.

Salah satu pekerjaan awal yang dilakukan adalah pemotongan pohon di sisi selatan bendung. Lokasi tersebut berada di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.

“Untuk awal ini pekerjaannya pemotongan pohon dan pembersihan lahan di sisi selatan atau Desa Sudimoro, masih sebatas pembersihan awal,” jelasnya. Tahapan ini menjadi fondasi sebelum pekerjaan konstruksi utama dimulai.

Skema Multiyears dan Perubahan Struktur Bendung

Proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek direncanakan berlangsung hingga tahun 2027. Pelaksanaannya menggunakan skema kontrak tahun jamak atau multi years contract.

Pada tahun pertama pelaksanaan, yaitu 2026, fokus pekerjaan adalah pembuatan kisdam. Kisdam diperlukan untuk mengendalikan aliran air selama proses konstruksi berlangsung.

Terkait teknis rehabilitasi, struktur bendung akan mengalami perubahan mendasar. Sistem karet yang selama ini digunakan tidak lagi menjadi komponen utama peninggi muka air.

Sebagai pengganti, akan digunakan pelat baja yang dirancang lebih kuat dan tahan lama. Pelat baja tersebut berfungsi sebagai peninggi muka air sungai.

“Gambarannya nanti bukan karet lagi sebagai peninggi muka air, tetapi pelat baja,” terang Sultoni. Meski demikian, sistem karet tetap digunakan sebagai mekanisme penggerak.

Karet tersebut berfungsi untuk menggerakkan pelat agar bisa naik dan turun sesuai kebutuhan operasional. Dengan sistem ini, pengaturan elevasi air menjadi lebih fleksibel.

Selain perubahan struktur utama, di atas bendung juga akan dilengkapi pelat tambahan. Pelat ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan operasional maupun pemeliharaan.

Lebar pelat tersebut dirancang setara dengan jalur pejalan kaki. Fasilitas ini diharapkan memudahkan akses petugas saat melakukan inspeksi rutin.

Dengan perubahan struktur tersebut, badan karet bendung yang lama kemungkinan besar akan dibongkar. Pembongkaran dilakukan untuk menyesuaikan desain baru yang lebih modern.

Peran Vital Bendung Jatimlerek bagi Irigasi

Bendung Karet Jatimlerek merupakan bendung karet pertama yang dibangun di Sungai Brantas. Bendung ini mulai dibangun pada tahun 1989 dan selesai pada 27 November 1992.

Sejak awal, bendung ini memiliki fungsi yang sangat vital. Keberadaannya mendukung sistem irigasi di wilayah utara Sungai Brantas.

Cakupan layanan irigasi bendung ini mencapai lahan sawah seluas 1.818 hektare. Air dari bendung menjadi sumber utama pengairan pertanian setempat.

Lahan pertanian yang dialiri mencakup beberapa desa. Di antaranya Desa Jatimlerek, Karangmojo, dan Purisemanding di Kecamatan Plandaan.

Selain itu, air dari Bendung Jatimlerek juga mengaliri Desa Tanggungkramat dan Jatigedong di Kecamatan Ploso. Keberlanjutan aliran air sangat menentukan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, bendung ini kerap mengalami kebocoran. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan elevasi air Sungai Brantas di bagian hulu.

Akibatnya, pasokan air ke Intake Saluran Irigasi Jatimlerek menjadi tidak optimal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi para petani.

Pada tahun 2016, BBWS Brantas sempat melakukan penggantian badan karet bendung. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya perbaikan.

Namun, kebocoran kembali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Masalah paling serius muncul pada bentang karet nomor 6 pada tahun 2024.

Saat itu, dilakukan penambalan karet sebagai penanganan sementara. Langkah tersebut hanya bersifat jangka pendek.

Melalui proyek rehabilitasi ini, diharapkan permasalahan kebocoran dapat teratasi secara menyeluruh. Struktur baru dirancang untuk meningkatkan keandalan dan umur layanan bendung.

Terkini